Kata Banua, Banjarmasin – Kisah Nurhan, pria kelahiran 1960 yang tinggal di Komplek Sederhana, RT 21/RW 001, Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menggugah kepedulian sejumlah pihak.

Di usia yang tidak lagi muda, Nurhan kini harus menjalani kehidupan dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Rumah yang ditempatinya disebut sudah tidak layak huni dan membutuhkan perhatian serta dukungan dari berbagai pihak.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), Adv. H. Rachmad Fadillah, S.H.

Fadillah ternyata merupakan teman Nurhan ketika masih duduk di bangku SMP 2 Seroja Banjarmasin. Namun, menurut Fadillah, kepeduliannya kali ini bukan semata-mata karena hubungan pertemanan maupun kesamaan latar belakang sekolah.

Ia mengetahui kondisi Nurhan setelah memperoleh informasi mengenai keadaan hidup mantan tenaga harian lepas di Kelurahan Teluk Dalam tersebut. Fadillah kemudian turun langsung untuk memastikan kondisi yang sebenarnya.

“Setelah mengetahui informasi itu, saya cek dulu ke lapangan. Setelah dicek, ternyata memang benar kondisinya seperti yang diinformasikan,” kata Fadillah, Selasa (1/9/2026) saat ditemui di salah satu gerai minimarket di Banjarmasin.

Setelah memastikan kondisi Nurhan, FKPWK kemudian memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok atau sembako. Bantuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan sosial organisasi yang bergerak dalam bidang kepedulian terhadap masyarakat.

Sebelumnya, dukungan juga telah diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan Nurhan.

Pernah Peduli Warga Kurang Mampu

Nurhan diketahui pernah bekerja sebagai tenaga harian lepas di Kelurahan Teluk Dalam sejak 2014 hingga 2018. Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga dan lingkungan sekitar, saat itu penghasilannya sekitar Rp300 ribu per bulan.

Setelah tidak lagi bekerja sebagai tenaga pembantu di kelurahan, Nurhan kemudian dipercaya menjalankan tugas sebagai Ketua RW.

Dalam menjalankan perannya tersebut, Nurhan disebut cukup aktif membantu pendataan warga yang membutuhkan perhatian sosial, termasuk masyarakat kurang mampu dan warga dengan kondisi disabilitas.

Ironisnya, orang yang pernah ikut membantu mendata warga yang membutuhkan bantuan tersebut kini justru berada dalam kondisi yang membutuhkan kepedulian.

“Yang saya tahu, ketika masih aktif bekerja di Kelurahan Teluk Dalam, jiwa sosial Nurhan cukup tinggi. Dalam pembagian bantuan sosial dari kelurahan, dia berupaya memastikan bantuan sampai kepada warga,” ujar Fadillah.

Namun, komunikasi dengan Nurhan berangsur berkurang setelah yang bersangkutan tidak lagi aktif bekerja di kelurahan pada 2018.

“Berjalannya waktu sampai 2018, kami tidak lagi memonitor bagaimana kehidupan beliau setelah tidak aktif di kelurahan. Ternyata ketika kami datang sekarang, kondisinya cukup memprihatinkan,” tuturnya.

FKPWK Dorong Pemerintah Berikan Perhatian

Fadillah berharap kondisi Nurhan tidak hanya berhenti pada bantuan sosial sesaat. Ia mendorong agar pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat melakukan verifikasi dan pembaruan data terhadap kondisi Nurhan.

Menurutnya, keberadaan warga yang membutuhkan perhatian sosial tidak selalu berada di wilayah pinggiran. Bahkan, persoalan kemiskinan dan kondisi rumah tidak layak huni masih dapat ditemukan di tengah kawasan perkotaan.

“Saya berharap kepada para pemangku kebijakan ada perhatian. Misalnya melalui program sosial atau program yang berkaitan dengan kondisi masyarakat seperti ini,” katanya.

Fadillah menegaskan, langkah FKPWK memberikan bantuan kepada Nurhan bukan karena hubungan pertemanan semata.

Menurutnya, FKPWK memiliki bidang sosial yang menjadi salah satu ruang organisasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, setelah sebelumnya kondisi penerima bantuan diverifikasi secara langsung.

“Bukan karena teman sekolah. Kebetulan kondisi sosial masyarakatnya memang harus mendapat perhatian. Karena itu kami berusaha membantu semampunya,” tegasnya.

Selain sembako, Fadillah juga berupaya membantu kebutuhan komunikasi Nurhan. Pasalnya, Nurhan disebut tidak memiliki telepon seluler yang dapat digunakan untuk berkomunikasi secara rutin.

“Bukan masalah nilai atau mereknya. Yang penting nanti beliau bisa berkomunikasi dan tetap bisa bersilaturahmi,” ujarnya.

Bukan Menyalahkan, tetapi Meminta Perhatian

Fadillah menegaskan, bantuan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu. Ia juga tidak ingin persoalan tersebut diarahkan kepada individu maupun lembaga tertentu.

Ia hanya berharap kondisi Nurhan mendapat perhatian dan ditindaklanjuti melalui mekanisme yang sesuai.

“Saya tidak menyinggung siapa-siapa. Intinya saya hanya minta tolong diperhatikan,” ucapnya.

Menurut Fadillah, kondisi Nurhan menjadi pengingat bahwa persoalan sosial masih dapat ditemukan di tengah kota. Karena itu, pendataan dan verifikasi warga yang membutuhkan bantuan perlu terus diperbarui agar program pemerintah benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

“Ini di kota, bukan di pinggiran. Di tengah kota pun masih ada orang yang hidup dalam kondisi seperti ini,” pungkasnya. (Nd_234)

 

By admin

You cannot copy content of this page