Kata Banua, Banjarbaru – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, semakin mengkhawatirkan. Asap tebal terlihat sejak pagi dan tidak hanya mengganggu jarak pandang pengguna jalan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya sistem pernapasan anak-anak.

Kondisi tersebut turut mendorong Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengeluarkan surat edaran terkait penyesuaian jam masuk sekolah. Mulai Kamis (20/8/2026), pelajar di Banjarbaru masuk sekolah pada pukul 09.00 Wita. Sementara wilayah yang kondisi kabut asapnya lebih parah diminta menyesuaikan secara situasional.

Di tengah kondisi tersebut, Gerakan Masyarakat Peduli Demokrasi (GMPD) Banjarbaru mengambil langkah nyata dengan membagikan masker gratis kepada masyarakat dan pelajar.

Kegiatan yang dipimpin langsung Ketua GMPD Banjarbaru, Rachmadi Engot, bersama sejumlah anggota, digelar sejak pukul 07.00 Wita hingga selesai pada Kamis (20/8/2026).

Sebanyak 2.500 lembar masker dibagikan di tiga lokasi, yakni kawasan Jalan A Yani Kilometer 25, tepatnya di depan Radar AirNav/Bandara Syamsudin Noor, kemudian SMP Negeri 11 Banjarbaru di Jalan Golf, serta Pondok Qalbun Salim di kawasan Jalan Trikora, Banjarbaru.

Rachmadi Engot bersama anggota GMPD, di antaranya Lala, Dewi, Trisia Chandra, Yoga, Aze, Bowo, dan Rixwan Chandra, turun langsung membagikan masker kepada pengendara sepeda motor, sebagian pengendara mobil, hingga pelajar.

Pembagian masker tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi kabut asap.

“Semoga apa yang GMPD lakukan hari ini dapat bermanfaat untuk masyarakat, juga anak-anak sekolah,” ujar perwakilan GMPD Banjarbaru.

Kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah kawasan Banjarbaru diketahui membuat jarak pandang pengendara menjadi terbatas. Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan saat berkendara serta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Selain mengganggu aktivitas, paparan asap karhutla juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak. Sejumlah warga mengaku mulai merasakan gangguan pernapasan akibat kondisi udara yang buruk.

GMPD Banjarbaru berharap kondisi kabut asap dapat segera mereda seiring dengan penanganan karhutla yang dilakukan berbagai pihak.

“Semoga bisa segera berakhir, kasihan anak-anak terdampak. Batuk, bahkan sesak napas karena ini. Kabutnya lumayan parah dibanding tahun sebelumnya,” ungkap Rachmadi Engot.

Masyarakat juga diharapkan ikut berperan dalam mencegah terjadinya karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Kondisi kabut asap yang semakin pekat menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat sehari-hari. (Nd_234)

By admin

You cannot copy content of this page