Jelajah Kalimantan News, Kandangan – Nama Aluh Idut, atau yang bernama asli Siti Warkiyah, tercatat sebagai salah satu pejuang perempuan asal Kalimantan Selatan yang berani menghadapi kerasnya penjajahan Belanda dan Jepang. Lahir di Parincahan, Kandangan tahun 1905, Aluh Idut tumbuh dalam keluarga yang sarat dengan kisah perjuangan rakyat Banjar. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan cerita heroik Perang Banjar dan perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Julukan Aluh Idut lahir dari fisiknya yang subur dan lebih besar dibanding perempuan kebanyakan. Namun, di balik sosok yang sederhana itu, tersimpan jiwa nasionalis yang tegas, berani, dan tak kenal menyerah.

Tahun 1930-an, Aluh Idut mulai aktif dalam organisasi pergerakan. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) Cabang Kandangan, yang kemudian melebur menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Kiprahnya berlanjut ketika diutus menjadi delegasi pada Kongres Parindra di Bandung tahun 1937. Ia juga memimpin bagian keputrian Jamiatun Nissa di Kandangan serta aktif dalam Kongres Wanita Kalimantan pada 1940.

Saat pendudukan Jepang, Aluh Idut tergabung dalam Fujingkai, organisasi yang menyuarakan persatuan dan kebangsaan. Semangatnya semakin berkobar ketika tentara NICA menurunkan bendera Merah Putih di Kandangan tahun 1945. Sejak itu, ia bergabung dengan Barisan Pelopor Pemberontakan Kalimantan Indonesia (BPPKI) sebagai penghubung dan penyelidik, bahkan menyuplai senjata ke pedalaman serta membuka dapur umum untuk para pejuang.

Namun perjuangannya membuat Belanda geram. Pada 1948, ia ditangkap setelah dikhianati seorang pejuang yang bekerja sama dengan NICA. Aluh Idut disiksa dengan tendangan, pukulan, hingga setrum listrik, tetapi ia tetap teguh menyimpan rahasia perjuangan. “Waja sampai kaputing” menjadi tekadnya yang tak tergoyahkan.

Setelah pengakuan resmi terhadap ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada 2 September 1949, Aluh Idut dibebaskan. Ia kemudian ditugaskan oleh Gubernur Militer Hassan Basery untuk melakukan kontak dengan para gerilyawan di Kalimantan Tengah sekaligus meresmikan sejumlah markas perjuangan.

Meski kesehatan semakin menurun, semangatnya tidak pernah padam. Hingga akhirnya, pada 5 Februari 1958, Aluh Idut wafat di Kandangan. Atas jasa-jasanya, Presiden RI menganugerahkan Bintang Gerilya dan mengangkatnya sebagai Letnan I (Anumerta) melalui SK Presiden RI Nomor 175/1959.

Aluh Idut dikenang bukan hanya sebagai pejuang perempuan Kandangan, tetapi juga simbol keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan kemerdekaan. Sosoknya membuktikan bahwa semangat juang tidak mengenal batas gender. (Berbagai Sumber/Nd_234)

 

 

 

 

By admin

You cannot copy content of this page